Oleh: BM | Juli 7, 2008

Tuhan Tersenyum

Don’t take your organs to heaven
Heaven knows we need them here.

Pernahkah Tuhan tersenyum, atau melucu? Dalam kitab suci tak
saya temukan dua hal itu. Begitu juga dalam hadis nabi.
Pemahaman tekstual saya atas agama terbatas. Pengajian saya
masih randah, kata orang Minang. Tapi kalau soalnya cuma
“adakah khatib yang melucu, atau marah,” saya punya data.

Di tahun 1978, seorang khatib melucu di masjid UI
Rawamangun. Akibatnya, jemaah yang tadinya sudah liyep-liyep
jadi melek penuh. Mereka menyimak pesan Jumat, sambil
senyum. Tapi khatib ini tak cuma menghasilkan senyum itu. Ia
diganyang oleh khatib yang naik mimbar Jumat berikutnya.

“Agama bukan barang lucu,” semburnya. “Dan tak perlu dibikin
lelucon. Mimbar Jumat bukan arena humor. Karena itu, sengaja
melucu dalam khotbah dilarang …”

Vonis jatuh. Marah khatib kita ini. Dan saya mencatat
“tambahan” larangan satu lagi. Sebelum itu demonstrasi
mahasiswa sudah dilarang “yang berwajib”. Senat dan Dewan
dibekukan. Milik mahasiswa yang tinggal satu itu, “melucu
buat mengejek diri sendiri”, akhirnya dilarang juga.

Kita memang perlu norma. Tapi juga perlu kelonggaran. Maka,
saya khawatir kalau menguap di masjid bakal dilarang. Siapa
tahu, di rumah Allah hal itu tak sopan. Buat jemaah yang
suka menguap macam saya, karena jarang setuju dengan isi
khotbah, belum adanya larangan itu melegakan.

Saya dengar Komar dikritik banyak pihak. Soalnya, dalam
ceramah agamanya ia melucu. Tapi Komar punya alasan sahih.
Ia, konon, sering mengamati sekitar. Di kampungnya, banyak
anak muda tak tertarik pada ceramah agama.

“Mengapa?” tanya Pak Haji Komar.

“Karena isinya cuma sejumlah ancaman neraka.”

Wah … Itu sebabnya ia, yang memang pelawak, memberi warna
humor dalam ceramahnya. Dan remaja pun pada hadir.

Saya suka sufisme. Di sana Tuhan dilukiskan serba ramah. Dan
bukannya marah melulu macam gambaran kita. A’u dibaca angu,
tidak bisa. Dzubi jadi dubi, tidak boleh. Khotbah lucu,
jangan. Lho? Bukankah alam ini pun “khotbah” Tuhan? Langit
selebar itu tanpa tiang, bulan bergayut tanpa cantelan dan
aman, apa bukan “khotbah” maha jenaka? Apa salahnya humor
dalam agama?

Di tahun 1960-an, Marhaen ingin hidup mati di belakang Bung
Karno. Dalam humor, saya cukup di belakang Bung Komar.
Artinya, bagi saya, humor agama bikin sehat iman. Dus, tidak
haram jadah.

Di Universitas Monash saya temukan stiker: “Jangan bawa
organmu ke surga. Orang surga sudah tahu kita lebih
memerlukannya di sini”. Imbauan ini bukan dari Gereja,
melainkan dari koperasi kredit. Intinya: kita diajak
berkoperasi. Dengan itu kita santuni kaum duafa, kaum lemah.

Ini pun “khotbah” lucu. Dalam kisah sufi ada disebut cerita
seorang gaek penyembah patung. Ia menyembah tanpa pamrih.
Tapi di usia ke-70 ia punya kebutuhan penting. Doa pun
diajukan. Sayang, patung itu cuma diam. Kakek kecewa. Ia
minta pada Allah. Dan ajaib: dikabulkan.

Bukan urusan dia bila masalah kemudian timbul, sebab
Allah-lah, bukan dia, yang diprotes oleh para malaikat.

“Mengapa ya, Allah, Kaukabulkan doa si kakek? Lupakah Kau ia
penyembah patung? Bukankah ia kafir yang nyata?”

Allah senyum. “Betul,” jawabnya, “Tapi kalau bukan Aku,
siapa akan mengabulkan doanya? Kalau Aku pun diam, lalu apa
bedanya Aku dengan patung?”

Siang malam aku pun berdoa, semoga humor kaum sufi ini tak
dilarang.

—————
Mohammad Sobary, Tempo 27 Oktober 1990

Oleh: BM | Juli 7, 2008

Terimakasih

‘Terimakasih’, sebuah kata yang banyak terdengar namun tak akrab. Seseorang akan mengerti sebuah makna dan kedalaman terimakasih ketika ia telah memberikannya, bukan mendapatkannya.
Terlepas dari apa yang telah tertinggal dan telah tertutup, apapun yang bisa digali dan diangkat lagi, tidak akan bisa mengungkapkan seberapa besar sebuah pengabdian dan lelah yang menyertainya. Bahkan untuk sebuah perjalanan yang melaluinyapun harus mengorbankan kebebasan dan perasaan untuk dihancurkan melalui sebuah perjuangan.
Entah berapa banyak airmata dan keringat yang telah tercurah, bahkan bukan untuk menangisi diri sendiri. Airmata dan keringat, dua faktor yang melengkapi sebuah totalitas pengorbanan dan perjuangan.
Kini di tanah itu telah tertanam satu lagi benih yang akan melengkapi sebuah sejarah perjalanan. Aku harap itu akan tumbuh, entah oleh siapa dan bagaimana. Dan jikapun itu tidak tumbuh dan hancur, sebuah kekecewaan akan tetap tersimpan sampai kapanpun. Dan masih akan terus berharap untuk tumbuh walaupun hanya sebuah penghormatan terhadap sebuah perjuangan dan pengorbanan dalam sebuah bingkai totalitas.
Totalitas itu telah merusak pikiranku dan membolakbalikkan logikaku, sehingga dengan rela kupasanglan badanku untuk kuterima badai peluru itu. Dan sekarang, Aku Mati dan matiku bukan untuk membela diriku sendiri.

Oleh: BM | Juli 7, 2008

Menggugat Nyamuk

Dulu aku pernah berpikir kenapa sih harus ada makhluk bernama nyamuk di dunia. Nyamuk itu tidak membawa sesuatu yang berguna dan hanya menimbulkan sesuatu yang negatif seperti penyakit. Puluhan bahkan ratusan orang meninggal dunia setiap tahunnya karena terserang penyakit demam berdarah dan masih banyak lagi yang harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membayar ongkos inap rumah sakit. Aku dulu sungguh bodoh menanyakan hal itu, aku seperti pahlawan yang ingin mengubah dunia menuju kebaikan. Tapi, dibalik peristiwa demam berdarah itu aku jadi mengerti kenapa nyamuk itu harus ada. Ketika wabah demam berdarah melanda kota-kota dan memakan korban yang memprihatinkan, tiba-tiba seluruh orang di kota menjadi manusia yang benar-benar manusia. Tiba-tiba para pemimpin mulai dari tingkat RT sampai gubernur dan presiden turun ke jalan melihat-lihat rakyatnya. Para warga bekerja bakti membersihkan parit dan lingkungannya. Bahkan para warga di perumahan elitpun berkumpul di rumah ketua RW untuk membahas si nyamuk tadi. Tiba-tiba mereka semua berkumpul, bekerjasama, bersilaturahmi, merasa sependeritaan dan tolong-menolong. Ya, itulah manusia. Manusia yang benar-benar manusia. Manusia yang membutuhkan orang lain disekitarnya.
Manusia adalah makhluk sosial. Dimanapun dan kapanpun ia berada manusia selalu membutuhkan orang lain untuk mengatur tata kehidupan dan membantunya menjalani hidupnya hari ini. Seorang majikan membutuhkan pembantu rumah tangga untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pembantu itu membutuhkan tukang becak untuk mengantarnya berbelanja di pasar, para pedagang di pasar membutuhkan tukang sampah untuk mengangkut sampah yang menumpuk di pasar, bahkan makanan yang kau makan hari ini merupakan sebuah proses panjang dan njlimet. Di sana, di sebidang sawah yang jauh dari keriuhan mobilitas penduduk kota terdapat seorang petani setengah baya yang punggungnya tersengat sinar matahari sedang mengayunkan cangkul di sepetak tanah basah di bawahnya. Kelak dari tanah basah itulah setiap butir nasi yang kaumakan berasal.
Tetapi entah mengapa sampai sekarang para pemulung, tukang sampah dan bahkan lelaki di sawah itu masih dianggap sebagai manusia ‘level rendahan’ , mendekati level nol alias ketiadaan. Artinya, mereka tidak sungguh-sungguh dianggap ada, walaupun mereka berjuang sungguh-sungguh agar ‘tetap ada’. Mereka bekerja keras memulung sampah dan mencangkul sawah, berjuang agar jangan sampai menjadi maling dan pengemis. Benarkah mereka itu adalah manusia-manusia yang tidak berguna atau masih berartikah jika aku katakan kepadamu bahwa nyamuk itu adalah makhluk yang tidak berguna? Lalu mengapa untuk membentuk manusia yang toleran dan memiliki kualitas jiwa sosial yang memadai saja harus dibutuhkan sebuah peristiwa kehilangan besar, wabah penyakit, bencana alam, peperangan. Apakah kita harus menunggu para manusia ‘level rendahan’ itu menjadi ‘nyamuk-nyamuk sosial’ agar kita bisa memahami bahwa mereka adalah saudara-saudara kita dan kita memang membutuhkan mereka untuk menggali potensi kemanusiaan kita.

Oleh: BM | Juli 7, 2008

Andai

Andaikan aku bisa mengatakan padamu
Tentu kamu akan tahu sesuatu itu,
Ingin sekali kulingkarkan pelangi itu di tubuhmu
Dan kuturunkan awan-awan putih itu di atas kepalamu
Bahkan ingin sekali ku terbangkan kamu ke langit biru itu
Agar semua yang melihatmu tahu keindahanmu,
Aku ingin memandangmu selama apapun yang kumau
Walaupun aku tidak bisa memaksakan pandangan itu
Sajakku kepadamu adalah gerakan tanganku
Yang kugunakan untuk menyentuhmu
Karena hanya itu yang kumampu…

21/02/2008 23:12:37

Oleh: BM | Juli 7, 2008

Tuhan Memakai Rok Mini

Sungguh manusia terlalu lugu dan polos untuk memahami rangkaian rumit sistem Dajjal. Orang beramai-ramai membeli buku tentang kapan munculnya Dajjal, padahal mereka telah lama hidup berdampingan dengan Dajjal. Kita sudah sangat terbiasa dengan sistem Dajjal sampai kita tidak bisa lagi membedakan antara Dajjal dengan Isa. Seolah-olah Dajjal tenggelam dalam kebesaran nama Tuhan yang sudah begitu populer. Tuhan disebut di mana-mana sampai tidak ada yang tahu siapa yang benar-benar mengingatNya. Tuhan hanya dijadikan pembantu yang disuruh-suruh memenuhi keperluan mereka. Manusia telah memonopoli Tuhan, mereka beribadah pada Tuhan sambil menghina dan mengkafirkan orang lain. Tuhan dianggap miliknya sendiri. Mereka menelan mentah-mentah perintah Tuhan. Perintah harus dilaksanakan, jika tidak maka akan mendapat hukuman. Dan masalahnya, manusia beribadah karena takut hukuman bukannya ketakutan dan kecintaan kepada Yang Menghukum. Itu adalah ibadahnya para budak, sedangkan Tuhan tidak butuh budak. Tuhan menginginkan manusia yang merdeka, merdeka dalam berpikir, merdeka dalam berbuat, merdeka dalam beribadah, tidak perlu hukuman untuk beribadah.
Dajjal tidak muncul sebagai sosok tetapi ia adalah sebuah sistem. Sistem itu yang membolak-balikkan pola pikir manusia hingga saling berbenturan satu sama lain. Sistem itulah yang membuat standarisasi kehidupan dunia. Manusia digiring didalam sebuah arus nilai umum yang sebenarnya hanyalah sebuah siklus sejarah. Kita hanya mengulangi sebuah adegan Nuh. Kita sepertinya telah selamat dari sebuah banjir besar, tetapi kita nantinya juga akan masuk kedalam perut ikan. Masalah sanggup keluar atau tidaknya kita dari perut ikan tergantung dari kesabaran dan ketauhidan seperti yang telah diteladankan oleh beliau. Dajjal tidak keluar melalui segitiga Bermuda tetapi dia keluar melalui layar televisi dan media cetak. Dia menguasai hak siar televisi dan memegang saham mayoritas media cetak. Dajjal hanya butuh beberapa hari saja untuk membuat pusar wanita menjadi trend, dia juga hanya butuh beberapa kali audisi saja untuk menciptakan tuhan-tuhan baru di atas panggung, bahkan tuhan-tuhan itupun memakai rok mini.

« Newer Posts

Kategori