Sungguh manusia terlalu lugu dan polos untuk memahami rangkaian rumit sistem Dajjal. Orang beramai-ramai membeli buku tentang kapan munculnya Dajjal, padahal mereka telah lama hidup berdampingan dengan Dajjal. Kita sudah sangat terbiasa dengan sistem Dajjal sampai kita tidak bisa lagi membedakan antara Dajjal dengan Isa. Seolah-olah Dajjal tenggelam dalam kebesaran nama Tuhan yang sudah begitu populer. Tuhan disebut di mana-mana sampai tidak ada yang tahu siapa yang benar-benar mengingatNya. Tuhan hanya dijadikan pembantu yang disuruh-suruh memenuhi keperluan mereka. Manusia telah memonopoli Tuhan, mereka beribadah pada Tuhan sambil menghina dan mengkafirkan orang lain. Tuhan dianggap miliknya sendiri. Mereka menelan mentah-mentah perintah Tuhan. Perintah harus dilaksanakan, jika tidak maka akan mendapat hukuman. Dan masalahnya, manusia beribadah karena takut hukuman bukannya ketakutan dan kecintaan kepada Yang Menghukum. Itu adalah ibadahnya para budak, sedangkan Tuhan tidak butuh budak. Tuhan menginginkan manusia yang merdeka, merdeka dalam berpikir, merdeka dalam berbuat, merdeka dalam beribadah, tidak perlu hukuman untuk beribadah.
Dajjal tidak muncul sebagai sosok tetapi ia adalah sebuah sistem. Sistem itu yang membolak-balikkan pola pikir manusia hingga saling berbenturan satu sama lain. Sistem itulah yang membuat standarisasi kehidupan dunia. Manusia digiring didalam sebuah arus nilai umum yang sebenarnya hanyalah sebuah siklus sejarah. Kita hanya mengulangi sebuah adegan Nuh. Kita sepertinya telah selamat dari sebuah banjir besar, tetapi kita nantinya juga akan masuk kedalam perut ikan. Masalah sanggup keluar atau tidaknya kita dari perut ikan tergantung dari kesabaran dan ketauhidan seperti yang telah diteladankan oleh beliau. Dajjal tidak keluar melalui segitiga Bermuda tetapi dia keluar melalui layar televisi dan media cetak. Dia menguasai hak siar televisi dan memegang saham mayoritas media cetak. Dajjal hanya butuh beberapa hari saja untuk membuat pusar wanita menjadi trend, dia juga hanya butuh beberapa kali audisi saja untuk menciptakan tuhan-tuhan baru di atas panggung, bahkan tuhan-tuhan itupun memakai rok mini.
Oleh: BM | Juli 7, 2008
Tuhan Memakai Rok Mini
Ditulis dalam gagasan