‘Terimakasih’, sebuah kata yang banyak terdengar namun tak akrab. Seseorang akan mengerti sebuah makna dan kedalaman terimakasih ketika ia telah memberikannya, bukan mendapatkannya.
Terlepas dari apa yang telah tertinggal dan telah tertutup, apapun yang bisa digali dan diangkat lagi, tidak akan bisa mengungkapkan seberapa besar sebuah pengabdian dan lelah yang menyertainya. Bahkan untuk sebuah perjalanan yang melaluinyapun harus mengorbankan kebebasan dan perasaan untuk dihancurkan melalui sebuah perjuangan.
Entah berapa banyak airmata dan keringat yang telah tercurah, bahkan bukan untuk menangisi diri sendiri. Airmata dan keringat, dua faktor yang melengkapi sebuah totalitas pengorbanan dan perjuangan.
Kini di tanah itu telah tertanam satu lagi benih yang akan melengkapi sebuah sejarah perjalanan. Aku harap itu akan tumbuh, entah oleh siapa dan bagaimana. Dan jikapun itu tidak tumbuh dan hancur, sebuah kekecewaan akan tetap tersimpan sampai kapanpun. Dan masih akan terus berharap untuk tumbuh walaupun hanya sebuah penghormatan terhadap sebuah perjuangan dan pengorbanan dalam sebuah bingkai totalitas.
Totalitas itu telah merusak pikiranku dan membolakbalikkan logikaku, sehingga dengan rela kupasanglan badanku untuk kuterima badai peluru itu. Dan sekarang, Aku Mati dan matiku bukan untuk membela diriku sendiri.
Oleh: BM | Juli 7, 2008
Terimakasih
Ditulis dalam kalbu