Semua kota punya lorong gelap masing-masing. Dari jalanan beraspal, gang sempit, sampai rumah berimpit di bantaran kali. Ya, semua kota punya tombak kemiskinan yang menohok tepat di jantungnya sendiri. Salah satu kemiskinan itu berwajah Angga, bocah kurus berusia 6 tahun. Sore di perempatan jalan sebuah toko buku besar adalah taman bermainnya. Korannya, koran, seribu, teriaknya. Seorang bapak menghampiri, menyodorkan lembaran seribuan rupiah. Tangan kecil Angga menyambut, koran pun berpindah tangan. Yeeee.., teriaknya sambil berlari kecil menuju teman-teman sepermainannya. Selamat datang di taman bermain bernama jalanan! Ini taman paling ganas dan gersang di kota, tempat Angga, Novi, dan pengasong- pengasong koran cilik bermain menjadi pekerja. Setiap pukul 14.00 mereka menyambangi jalanan. Angga pun bercerita tentang jadwal hariannya. Habis pulang sekolah jam 11 atau jam 12. Pulang dulu ke rumah, makan. Terus jualan koran di sini, tuturnya. Ibarat pabrik, Angga bisa jadi buruh yang bekerja pada seorang tuan, yang disebutnya juragan. Si juragan ini menyediakan koran-koran yang harus habis dijual. Aku biasanya ambil 15 lembar, ujar Angga. Kalau semua laku terjual, Angga bisa bawa pulang uang Rp 3.000.
Kadang pun, Angga mengambil jatah 20 lembar, kalau laku semua, untungnya Rp 5.000. Untuk apa Angga cari duit? Untuk bantu ibu bayarin sekolah, jawab bocah kelas I SD Bhinneka ini. Lembar demi lembar uang yang dijejalkan ke sakunya semua diserahkan pada ibunya yang sudah menjanda. Jalanan beraspal di bawah terik mentari adalah neraka, apalagi bila mesin motor meraung dan klakson mobil membabi buta. Tetapi, jalanan adalah surga bagi Angga. Di sini ia bermain bersama saudara dan kawan-kawan baru. Itu kakak saya. Telunjuknya berhenti pada sosok perempuan kecil kurus dengan kulit terbakar. Novi, sosok itu, juga pengasong koran. Bahkan, pengalaman kerjanya sudah lebih panjang. Sudah jual koran mulai TK, kata Novi yang kini kelas IV SD Muhammadiyah. Dua bersaudara ini tinggal di permukiman di bantaran Kali Code. Pergi-pulang, cukup jalan kaki. Bedanya, pergi ke jalanan dengan gairah, pulang dengan lelah. Suka kerja seperti ini? Suka, banyak teman. Di rumah gak ada siapa- siapa, kata Novi yang kelak
ingin jadi dokter. Perlindungan Angga, Novi, dan pengasong-pengasong kecil lain membukakan mata tentang masalah pekerja anak. Seorang anak, menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk yang masih berada di dalam kandungan. Mengapa mereka ke jalanan? Dalam buku Pekerja Anak di Indonesia, Usman dan Nachrowi menuliskan, anak-anak yang bekerja di usia dini biasanya berasal dari keluarga miskin, umumnya terabaikan pendidikannya. Inilah yang terus melestarikan kemiskinan, menjebak pekerja-pekerja muda ini dalam pekerjaan tak terlatih dan upah sangat buruk. Mereka pun tanpa sadar menjadi bagian dari lingkaran setan kemiskinan. Pilunya, bocah-bocah ini dengan riang menyongsong jalanan setiap hari. Begitu gandrungnya mereka kembali ke jalan, hingga seakan menjadi bagian dari kosmetik kota. Namun, beberapa waktu belakangan isu Rancangan Peraturan Daerah tentang Penanganan Gelandangan, Pengemis dan Perlindungan Anak yang Bermasalah di Jalanan mencuat.
Kosmetik kota ini, naga-naganya, hendak dihapus untuk menunjukkan wajah kota yang katanya akan jadi lebih cantik itu. Lalu, ke mana Angga akan bermain? Bisakah Novi jadi dokter? Raperda itu, yang entah kapan rampung dibahas, bisakah menjadi titik temu bagi mimpi-mimpi pekerja-pekerja yang terlalu dini menjadi upahan? Aku gak mau terus jualan kok, kata Novi tiba-tiba. Betul, dia mau jadi dokter. Pernyataannya ibarat cahaya di ujung lorong yang memastikan bahwa besok pasti lebih baik. Tapi, Novi tak sendiri. Seharusnya ada banyak tangan juga yang mendorongnya agar mampu sampai di ujung lorong. Perlindungan, dari siapa pun, kemudian jadi keniscayaan. Mereka sebenarnya meminta bantuan, ingin dilindungi. Di ujung pertemuan kami, Novi berkata, Besok-besok ajarin aku belajar, yah. (A11)
dari kompas.com
Selasa, 22 April 2008 | 09:13 WIB