Ketika kita harus mengakui bahwa kita kalah dan harus menyingkir dari jalan ini, apakah itu bisa berlalu begitu saja?
Sebuah keinginan yang sudah kita angan-angankan sejak dahulu kini tidak bisa kita kejar lagi. Harus ada sedikit atau bahkan sebuah pengorbanan seumur hidup untuk bisa menerimanya.
Kalau kita bisa menemukan hakikat kita sebagai manusia dan berpikir sebagai manusia, maka kita akan menemukan diri kita sebagai makhluk berproses. Semua angan-angan yang kita cita-citakan selalu kita capai dengan sebuah proses. Kita adalah makhluk berproses. Proses mengajarkan lebih banyak hal dibandingkan dengan tujuan. Sehingga dalam naik turunnya perjalanan proses hidup, manusia selalu dituntut untuk belajar.
Thomas Alva Edison memerlukan tidak kurang dari seribu kali percobaan untuk menemukan sebuah lampu, sebuah mahakarya yang mungkin saja membuat Tuhan pun tersenyum. Tanpa pernah kita sadari, sebuah lampu mewakili simbol semangat yang luar biasa, semangat seorang manusia yang tidak menyerah hanya karena dia gagal pada percobaan pertama, kedua, ketiga bahkan keseratus.
Namun itu semua, kejayaan, keunggulan, kegagalan, kehancuran, bukanlah sebuah produk murni dari usaha manusia, selalu saja ada campur tangan dan intervensi dari Tuhan. Dan jika kita bisa menemukan di mana Tuhan bekerja pada setiap usaha dan kesungguhan kita, disitulah kita akan menemukan bahwa kegagalan itu bukanlah sesuatu yang menarik untuk disesali. Kegagalan hanyalah sebuah kerikil kecil yang terinjak di tengah gurun proses kehidupan.
Oleh: BM | Juli 7, 2008
Belajar Sepanjang Masa
Ditulis dalam gagasan