Kata angkringan sudah tak asing lagi di telinga masyarakat. Tempat makan khas ini bahkan telah memiliki banyak penggemar, terutama di kota Jogja. Hanya beratapkan tenda, dengan gerobak yang juga berfungsi sebagai meja, tempat ini biasanya menjajakan kopi, teh, dan jahe dengan penganan dan nasi bungkus yang dikenal juga sebagai sega kucing (baca: sego kucing) atau nasi kucing. Disebut demikian karena memang porsinya mirip dengan porsi makan kucing. Nasi bungkus yang hanya berukuran sekepalan tangan dengan lauk ikan asin, gudeg, atau suwiran ayam serta sambal. Para pelanggannya pun akan duduk di bangku yang mengelilingi gerobak dan memilih makanan sesuai selera mereka.
Dulunya, angkringan adalah tempat makan bagi para pekerja kasar yang bekerja hingga larut malam, seperti tukang becak, pedagang, hingga kuli panggul di sekitar kota, terutama sekitar stasiun Tugu. Beda dengan keadaan yang sekarang dapat dilihat. Di samping sebuah tempat makan, saat ini angkringan telah menjadi bagian dari keseharian bagi masyarakat Jogja, khususnya kaum muda. Banyak juga pembeli yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Makan di angkringan pun menjadi sebuah trend tersendiri.
Suasana angkringan yang memang lain dari pada yang lain adalah salah satu daya tarik bagi pelanggan angkringan. Seperti halnya saat berbincang dengan sesorang pembeli, Dhita. Alasan dia makan di angkringan bukanlah harga yang murah, namun yang ia cari adalah suasana khas angkringan yang tidak dapat ditemukan di mana pun. Ini membuat dia dan kawan-kawannya selalu kembali datang untuk sekedar bercengkrama sambil menikmati teh kental, atau jahe panas, setelah jalan-jalan atau beraktifitas.
Lain lagi dengan Rudi. Dengan pakaian rapih dan mobil yang mengkilat, Rudi ikut nongkrong di angkringan untuk bertemu dangan rekan usahanya. Menurutnya, tempat yang beratmosfer nyaman ini lebih disenangi bukan untuk ngobrol ngalor-ngidul, melainkan untuk membicarakan masalah bisnis. “Lebih santai, tidak formil, dan lobi dapat berjalan dengan mulus,” kelakarnya.
Angkringan yang sekarang memang telah banyak berubah. Selain sebagai tempat makan alternatif bagi yang biasa begadang, di Jogja angkringan menjadi tempat berkumpul dan ngobrol yang asyik. Sehingga dapat dengan mudah kita menemukan keberagaman karakter, budaya, suku, dan adat di sini, karena banyaknya para pendatang, terutama mahasiswa dari luar jogja. Bahkan dapat dikatakan, angkringan sekarang adalah miniatur kehidupan masyarakat yang ada di Jogja.
Terlepas dari itu semua, ada permasalahan yang juga harus jadi perhatian, yaitu keberadaan angkringan yang semakin “tersudut” di antara gedung-gedung Mall yang megah dan tempat-tempat makan yang mewah. Bagaimanapun, angkringan memiliki alur historis yang tidak bisa dianggap remeh. Karena dengan keberadaan tempat makan khas ini, rekaman kejadian dari beberapa generasi tercatat di benak para penjaja angkringan. Sebagai saksi perubahan sosio-kultur yag terjadi di kota Jogja, juga sebagai simbol dari ekonomi kerakyatan yang terus bertahan di sela perkembangan teknologi dan jaman. Bisakah terus bertahan?(yds)
Angkringan dan Budaya Ngangkring Masyarakat
Ditulis dalam artikel
Jika Batu Tergeletak di Jalan
Jika ada batu tergeletak di tengah jalan
Sehingga membahayakan orang-orang yang lewat
Engkau mengambilnya, sambil mencari teman berunding
Apa yang bisa dilakukan agar batu itu bermanfaat
Islam adalah memelihara kesuburan setiap petak tanah
Menyirami tetumbuhan, mengagumi gunung dan lautan
Berenang di air dengan rasa syukur
Menghirup udara dengan rasa rindu kepada Tuhan
Islam adalah jika seseorang kelaparan
Bahkan jika seekor anjing kelaparan
Engkau membenci dirimu sendiri karena engkau kenyang
Kemudian engkau mempelajari rasa lapar
Agar tetap diakui sebagai saudaranya orang yang kelaparan
Islam adalah jika seseorang merasa haus
Bahkan jika orang yang sedang akan membunuhmu merasa haus
Engkaupun merasakan haus
Dan berbagi minuman dengannya
Islam adalah jika ada orang tersisih dan kesepian
Engkau datang menyapanya
Islam adalah jika orang membencimu, engkau mencintainya
Jika orang memusuhimu, engkau menjunjungnya dengan kearifan
Islam adalah ummat manusia mempersunting alam,
Sungai dan hutan, gunung dan udara, air dan tanah — menjadi istri
Yang dicintainya, dipelihara kesuburannya
Disirami dengan rasa cinta
Islam adalah pemerintah suatu negara mengambil rakyat sebagai istri
Diajak saling menyayangi, bekerjasama dalam keseimbangan kuasa
Islam adalah pihak yang kuat memahami pentingnya pihak yang lemah
Dan pihak yang lemah tidak menikmati kelemahan dan ketergantungannya
Salam bermakna selamat
Islam bermakna menggali, membangun, menciptakan selamat
Kemanusiaan Islam bermakna setia saling memanusiakan
Kebudayaan Islam bermakna hati damai pikiran damai
Ekonomi Islam bermakna tak ada yang kelaparan tak ada yang kekenyangan
Politik Islam bermakna demokrasi yang sejati dan jujur
Filosofi Islam adalah perimbangan antara kewajiban asasi manusia
Dengan hak asasi manusia
Salam bermakna selamat
Islam bermakna liberasi menuju keselamatan bersama
Islam bermakna pekerjaan emansipasi
menuju keselamatan bersama seluruh ummat manusia
London 23 Maret 2005.
Ditulis dalam kutip
Gombalisasi
Mungkin sekarang kita tak asing lagi dengan produk-produk iklan di televisi
kabar infotainment yang mulai menjangkiti dunia pertelevisian di tanah air. Ini cuma sekedar basa-basi seorang yang tolol tak pernah paham apa yang dimaksud dengan dunia modern seperti sekarang ini. Yah… maklumlah saya asli masih ndesit banget, gimana nggak bingung coba? di TV setiap hari disuguhi Fenomena tayangan yang menggairahkan dari liputan operasi bedah plastik oleh beberapa selebritis kita yang katanya nggak pede kalo perutnya buncit, atau punya payudara kecil wah..wah..wah.. seru juga ya ngebayanginnya…belum lagi tayangan fesyen pakain dalem, gila banget sekarang orang sudah sibuk gimana bentuk celana dalem juga BH.
Apa lagi acara berita di TV7 tiap tengah malam yang menayangkan Gaya Hidup yang selalu menampilkan kehidupan malam di sebuah pub atau kafe yang asyik dengan goyangan erotis dari penari diatas meja bartender. Bener-bener gila kali yaa.. atau memang saya yang ketinggalan zaman? coba bayangkan berapa pasang mata yang menyaksikan acara-acara tersebut, seperti Fenomena-nya Trans TV, Malem-Malem-nya SCTV belum lagi dari stasiun TV yang lain yang juga menayangkan pertunjukan serupa. Dan yang lebih hangat lagi baru-baru ini di tanah air akan segera terbit PlayBoy Indonesia dengan slogan yang cukup menyenangkan pula Majalah Hiburan Pria. Tapi saya akui juga [soalnya gak pengen muna sich…] saya cukup terhibur juga kalo ada majalah yang setiap edisi selalu menampilkan lekuk tubuh para wanita molek dengan dada membusung memamerkan susu-nya yang sepertinya enak untuk disentuh. Tapi menurut informasi yang saya dapatkan investasi yang dilakukan untuk majalah ini sebesar 6 miliar rupiah, wuih… bayangin aja duit segitu banyaknya dibuat ngebantu sodara kita yang kena musibah berapa banyak nyawa yang seharusnya ditolong ini malah mengongkosi kegiatan yang menurunkan derajat manusia terutama ya para wanita. Manusiawi gak sih mereka [para pemilik modal ini] ?
Tak hanya wanita yang diekspose, sekarang cowok pun menjadi ajang pamer bentuk tubuh namun bukan bermaksud untuk menunjukkan keahlian olah tubuh, melainkan diarahkan bagaimana seorang cowok menjadi objek/ikon sex yang hot. Kerempeng gak keren mejadi tagline sebuah iklan produk susu khusus buat laki-laki. Gak lama oatak kita ini menjadi miring juga.
Indonesia wasalam [meminjam istilah mas Toto R.] yach… kini mungkin yang dibilang Indonesia yang dulu dah gak ada. Karena kita sudah gak punya lagi muka yang asli Indonesia, semua telah dihancurkan oleh pemilik modal sebagai Nabi baru dengan Tuhannya yang bernama Globalisasi, sedangkan kitab sucinya adalah pasar bebas. Monggo kita tinggal pilih saja? hari ini mau pake’ G-String atau Lingerie? atau mau pake kondom yang udah ada ATM-nya dimana-mana? atau tinggal membayangkan nikmatnya bercumbu dengan model-model majalah Playboy atau Popular dengan Tips Sex yang gak kebayang gimana ngelakuinnya?
Untuk yang terakhir kalinya aku sich asyik aja, nikmati suguhan yang membuat kita lantas berkhayal gimana caranya yaa…? c’mon babe… c’mon terus digoyang buat aku semakin kranjingan. Gak perlu nunggu lama lagi sekarang menikmati syurga disini pun juga sudah tersedia malah cepat saji layaknya makanan Fast food bisa telpon langsung dating sesuai pesanan lagi. Tapi aku juga turut berdoa innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Indonesia cepet dewasa gak tabu lagi lihat orang telanjang sewaktu-waktu. Dan tidak dikutuk Tuhan menjadi negeri yang semakin bodoh. Amin.
Wassalam Indonesia.
[ dari Bedjo Plak ]
Ditulis dalam kutip
Di antara Tempat
Engkau di hati, Engkau di Arsy
Engkau di barat, Engkau di timur
Engkau di suatu tempat yang lebih dekat dengan urat leher, Engkau nun jauh di ujung tata surya
orang-orang berduyun-duyun mendatangi Engkau di masjid-masjid, tetapi Engkau sedang mengusap-usap kepala anak kecil di pinggir jalan
orang-orang berdoa memohon curahan rahmatMu, Engkau sedang mengajari seekor anak kucing berjalan dan memanggil induknya,
Engkau memberikan rejeki tanpa batas kepada orang-orang tertentu, Engkau memberi hidayah dan keselamatan tanpa pandang bulu,
Merunduk tetumbuhan, meledaklah gunung,
berhembus angin pagi, menggelegar petir,
berkicau burung-burung dan beterbangan disore hari,
betapa dahsyat kuasaMu
Ditulis dalam kalbu
Pulanglah nak!
Tubuhmu terkena debu di jalan
basuhlah kepala, tangan dan kakimu
lalu pulanglah ke rumah
mintalah maaf atas kelupaanmu membantu Ibu,
Bukalah bajumu yang kotor
cucilah barang sebentar
tunggulah sampai kering
sementara bertelanjanglah
Karangmalang, 21.06.05
Ditulis dalam kalbu
Berakhir di situ
Andai aku bisa menyentuhmu
akan kucabik-cabik pakaianmu
lalu kutelanjangi kamu
dan kunikmati sendiri
Andai bisa kutelanjangi kamu
akan kuberikan pakaian baru untukmu
lalu kupakaikan ke tubuhmu dengan lembut
dan kunikmati sendiri
Andai aku bisa memakaikan pakaian ke tubuhmu
akan kuhiasi tubuhmu dengan perhiasan
lalu kupercantik wajahmu
dan kunikmati sendiri
Andai aku bisa mempercantik wajahmu
akan kunikahi kamu
lalu kujaga kamu
dan kunikmati sendiri
Ditulis dalam kalbu
Mabuk Kesederhanaan
aku tergila-gila pada kesederhanaan
aku mabuk kesederhanaan
aku jatuh cinta pada kesederhanaan
betapa ingin aku menulis dengan sederhana
mengungkapkan dengan sederhana
merenungkannya dengan sederhana
lalu menangis dalam keadaan yang sederhana
betapa ingin aku berjalan dengan sederhana
berpakaian sederhana
berkata-kata sederhana
melihat dengan tatapan yang sederhana
lalu melakukan hal-hal sederhana
walaupun dunia dianggap tak sesederhana itu
tapi betapa ingin aku menganggapnya sederhana
Ditulis dalam kalbu
Belajar Sepanjang Masa
Ketika kita harus mengakui bahwa kita kalah dan harus menyingkir dari jalan ini, apakah itu bisa berlalu begitu saja?
Sebuah keinginan yang sudah kita angan-angankan sejak dahulu kini tidak bisa kita kejar lagi. Harus ada sedikit atau bahkan sebuah pengorbanan seumur hidup untuk bisa menerimanya.
Kalau kita bisa menemukan hakikat kita sebagai manusia dan berpikir sebagai manusia, maka kita akan menemukan diri kita sebagai makhluk berproses. Semua angan-angan yang kita cita-citakan selalu kita capai dengan sebuah proses. Kita adalah makhluk berproses. Proses mengajarkan lebih banyak hal dibandingkan dengan tujuan. Sehingga dalam naik turunnya perjalanan proses hidup, manusia selalu dituntut untuk belajar.
Thomas Alva Edison memerlukan tidak kurang dari seribu kali percobaan untuk menemukan sebuah lampu, sebuah mahakarya yang mungkin saja membuat Tuhan pun tersenyum. Tanpa pernah kita sadari, sebuah lampu mewakili simbol semangat yang luar biasa, semangat seorang manusia yang tidak menyerah hanya karena dia gagal pada percobaan pertama, kedua, ketiga bahkan keseratus.
Namun itu semua, kejayaan, keunggulan, kegagalan, kehancuran, bukanlah sebuah produk murni dari usaha manusia, selalu saja ada campur tangan dan intervensi dari Tuhan. Dan jika kita bisa menemukan di mana Tuhan bekerja pada setiap usaha dan kesungguhan kita, disitulah kita akan menemukan bahwa kegagalan itu bukanlah sesuatu yang menarik untuk disesali. Kegagalan hanyalah sebuah kerikil kecil yang terinjak di tengah gurun proses kehidupan.
Ditulis dalam gagasan
Bocah-bocah kosmetik kota
Semua kota punya lorong gelap masing-masing. Dari jalanan beraspal, gang sempit, sampai rumah berimpit di bantaran kali. Ya, semua kota punya tombak kemiskinan yang menohok tepat di jantungnya sendiri. Salah satu kemiskinan itu berwajah Angga, bocah kurus berusia 6 tahun. Sore di perempatan jalan sebuah toko buku besar adalah taman bermainnya. Korannya, koran, seribu, teriaknya. Seorang bapak menghampiri, menyodorkan lembaran seribuan rupiah. Tangan kecil Angga menyambut, koran pun berpindah tangan. Yeeee.., teriaknya sambil berlari kecil menuju teman-teman sepermainannya. Selamat datang di taman bermain bernama jalanan! Ini taman paling ganas dan gersang di kota, tempat Angga, Novi, dan pengasong- pengasong koran cilik bermain menjadi pekerja. Setiap pukul 14.00 mereka menyambangi jalanan. Angga pun bercerita tentang jadwal hariannya. Habis pulang sekolah jam 11 atau jam 12. Pulang dulu ke rumah, makan. Terus jualan koran di sini, tuturnya. Ibarat pabrik, Angga bisa jadi buruh yang bekerja pada seorang tuan, yang disebutnya juragan. Si juragan ini menyediakan koran-koran yang harus habis dijual. Aku biasanya ambil 15 lembar, ujar Angga. Kalau semua laku terjual, Angga bisa bawa pulang uang Rp 3.000.
Kadang pun, Angga mengambil jatah 20 lembar, kalau laku semua, untungnya Rp 5.000. Untuk apa Angga cari duit? Untuk bantu ibu bayarin sekolah, jawab bocah kelas I SD Bhinneka ini. Lembar demi lembar uang yang dijejalkan ke sakunya semua diserahkan pada ibunya yang sudah menjanda. Jalanan beraspal di bawah terik mentari adalah neraka, apalagi bila mesin motor meraung dan klakson mobil membabi buta. Tetapi, jalanan adalah surga bagi Angga. Di sini ia bermain bersama saudara dan kawan-kawan baru. Itu kakak saya. Telunjuknya berhenti pada sosok perempuan kecil kurus dengan kulit terbakar. Novi, sosok itu, juga pengasong koran. Bahkan, pengalaman kerjanya sudah lebih panjang. Sudah jual koran mulai TK, kata Novi yang kini kelas IV SD Muhammadiyah. Dua bersaudara ini tinggal di permukiman di bantaran Kali Code. Pergi-pulang, cukup jalan kaki. Bedanya, pergi ke jalanan dengan gairah, pulang dengan lelah. Suka kerja seperti ini? Suka, banyak teman. Di rumah gak ada siapa- siapa, kata Novi yang kelak
ingin jadi dokter. Perlindungan Angga, Novi, dan pengasong-pengasong kecil lain membukakan mata tentang masalah pekerja anak. Seorang anak, menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk yang masih berada di dalam kandungan. Mengapa mereka ke jalanan? Dalam buku Pekerja Anak di Indonesia, Usman dan Nachrowi menuliskan, anak-anak yang bekerja di usia dini biasanya berasal dari keluarga miskin, umumnya terabaikan pendidikannya. Inilah yang terus melestarikan kemiskinan, menjebak pekerja-pekerja muda ini dalam pekerjaan tak terlatih dan upah sangat buruk. Mereka pun tanpa sadar menjadi bagian dari lingkaran setan kemiskinan. Pilunya, bocah-bocah ini dengan riang menyongsong jalanan setiap hari. Begitu gandrungnya mereka kembali ke jalan, hingga seakan menjadi bagian dari kosmetik kota. Namun, beberapa waktu belakangan isu Rancangan Peraturan Daerah tentang Penanganan Gelandangan, Pengemis dan Perlindungan Anak yang Bermasalah di Jalanan mencuat.
Kosmetik kota ini, naga-naganya, hendak dihapus untuk menunjukkan wajah kota yang katanya akan jadi lebih cantik itu. Lalu, ke mana Angga akan bermain? Bisakah Novi jadi dokter? Raperda itu, yang entah kapan rampung dibahas, bisakah menjadi titik temu bagi mimpi-mimpi pekerja-pekerja yang terlalu dini menjadi upahan? Aku gak mau terus jualan kok, kata Novi tiba-tiba. Betul, dia mau jadi dokter. Pernyataannya ibarat cahaya di ujung lorong yang memastikan bahwa besok pasti lebih baik. Tapi, Novi tak sendiri. Seharusnya ada banyak tangan juga yang mendorongnya agar mampu sampai di ujung lorong. Perlindungan, dari siapa pun, kemudian jadi keniscayaan. Mereka sebenarnya meminta bantuan, ingin dilindungi. Di ujung pertemuan kami, Novi berkata, Besok-besok ajarin aku belajar, yah. (A11)
dari kompas.com
Selasa, 22 April 2008 | 09:13 WIB
Ditulis dalam artikel
Mengapa Pindah Kerja?
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering
ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul
Azim Premji, “Bill Gates” dari India (terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro,
dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan
salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan
industri teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21 orang terkaya di
dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup
sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah
dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan)
karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi
dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian
karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang
meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih
menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan
pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software
senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius
untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software.
Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO
perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis
karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan
SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi
mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri
untuk pelatihan. “Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru”,
katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat
dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia
bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain
di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi.
Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing
akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak
tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya
besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak
orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian
terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei
lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu
dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan
langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia
adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia
adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan
relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan
manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt
Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan
mempertahankan orang yang bagus – dalam bentuk gaji yang lebih besar,
fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab
kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian
karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu.
Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama
seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait
dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini
bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang
bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa
hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang
paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan
produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk
tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang
paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan
mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada
saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai
mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan
secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan
membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan
saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang
krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang
tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda
tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat
karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol,
terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka
lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika
hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti – biasanya
karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan
seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar
bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan
yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa
saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka,
seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari
puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat
biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari
penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki
seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien
dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat
kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan
oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan
reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan
menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun
atasan) ?
Ditulis dalam artikel

